JIWA SEORANG PEMIMPIN                                                                                                 Seorang pemimpin mesti mempunyai ruah, roh atau jiwa kepemimpinan. Berikut ini paparan mengenai “jiwa” yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. “Jiwa” tersebut antara lain:

Orang yang mau belajar…belajar, dan belajar terus menerus.

Mengapa seorang pemimpin perlu senantiasa belajar?
Alasannya amat sederhana. Seorang pemimpin, dalam banyak hal, ia akan berhadapan dengan orang banyak. Orang yang dihadapi tersebut memiliki berbagai macam karakter dan pembawaan hidup. Mereka juga memiliki keunikan hidup tersendiri. Dengan kemauan belajar terus menerus, diharapkan seorang pemimpin mampu mencerap dan menjabarkan kemauan institusi ataupun kemauan bawahannya, rakyat yang beraneka ragam.

Selebihnya, kemauan belajar tersebut juga harus dimunculkan dari dalam diri pemimpin, setiap saat. Belajar untuk mengenal siapa yang dipimpinnya, dan yang lebih penting lagi, belajar mengenal diri sendiri. Tanpa pengenalan diri sendiri, bahkan penghargaan akan diri sendri, tidaklah mungkin seorang akan mengenal dan menghargai orang lain yang dipimpinnya. Atau dalam bahasa lain, kata Confusius, seperti dikutip Seputar Indonesia (5 Juni 2009, hlm.1) “hargailah diri anda maka orang lain akan menghargai anda”.

Seorang pemimpin juga perlu belajar akan arti penting “kehadiran” orang lain [yang dipimpin], dalam kehidupannya . Belajar untuk menghargai “kehadiran” orang lain inilah yang memperkaya dirinya secara pribadi, dan memungkinkan dirinya semakin berkembang secara maksimal (bdk. Robert E.Vallet, 1989: 108-114).

Orang yang menghargai waktu dan bawahannya – yang dipimpin.

Ada seorang motivator sekaligus penulis terkemuka asal Amerika serikat, Harvey MacKay. Kata-kata mutiaranya yang sangat menarik untuk kita simak, seperti yang dikutip Seputar Indonesia (26 April 2009, hlm.1) “Waktu itu gratis, tapi sangat berharga. Kamu tidak akan dapat memiliki, tapi dapat memanfaatkannya. Kamu tidak dapat menyimpan, tapi dapat menghabiskannya. Sekali kehilangan, kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali”.

Jika dalam hal yang paling sederhana; menghargai waktu, seorang pemimpin tak dapat melaksanakannya, besar kemungkinan, bahwa seorang pemimpin tersebut juga tak dapat menghargai orang-orang yang dipimpinnya. Sekedar contoh, seorang pemimpin, melalui sekretarisnya mengundang beberapa karyawannya untuk rapat jam 8.00 pagi. Ketika rapat tiba, jam 8.00 sang pemimpin belum datang. Ia datang satu jam kemudian. Satu jam, bagi para karyawannya adalah waktu yang berharga. Seorang pemimpin dituntut untuk dapat menghargai waktu sekaligus dapat mengendalikannya (bdk.James Spillane, 2003:71-84).

Orang yang sanggup mengomunikasikan ide, gagasan kepada orang lain dengan jelas.

Seorang pemimpin sering menjadi “arah – batu penjuru” untuk sebuah organisasi. Kadang ia harus juga harus mengambil keputusan. Maka seorang pemimpin juga perlu belajar mengomunikasikan segala bentuk keputusan yang telah diambilnya. Kemampuan ini tentu juga ditunjang sikap rendah hati, bahwa dirinya [seorang pemimpin] bukan sumber kebenaran, tetapi penyampai kebenaran. Semakin pemimpin mampu mengomunikasikan ide – gagasannya dengan baik, semakin pula kepemimpinannya efektif (bdk. HAW. Widjaya, 2008:25-26). Kemampuan berkomukasi tersebut sering didukung, salah satunya oleh penguasaan bahasa yang baik [bahasa yang komunikatif] dan penguasaan akan karakteristik yang akan menerima pesan (Widjaya, ibid, hlm.26).

Dalam cara pandang tertentu, komunikasi seorang pemimpin lebih “diwajibkan” untuk menggunakan bahasa “kemanusiaannya” dari pada bahasa “kekuasaannya” .  Seorang pemimpin lebih diharap untuk dapat mengerti dan memahami siapa yang dipimpinnya, daripada “merengek” untuk minta dipahami dan dimengerti.

Orang yang berpikir ke depan (futuristik).

Seorang pemimpin adalah seorang yang berpikir ke depan. Untuk itu ia perlu kreatif. Ia kreatif dan tak mudah putus asa menghadapi hidup. Ia juga kreatif dalam mencari terobosan-terobosan baru untuk kemajuan institusi ataupun kesejahteraan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan, menurut Abdurrahman Wahid (2006:97) “orientasi seorang pemimpin terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin” .

Orang yang mempunyai skala prioritas.

Seorang pemimpin mesti mempunyai skala prioritas, mana yang penting, perlu dan harus (mendesak) dikerjakan lebih dahulu. Skala proritas ini juga berhubungan dengan sesuatu hal yang baik, dan benar untuk dilaksanakan. Bisa jadi, ada suatu hal yang baik dan benar untuk dikerjakan, tetapi apakah hal tersebut penting, perlu dan mendesak untuk segera dikerjakan. Disinilah fungsi pertimbangan akal budi yang jernih. Akal budi yang mampu memilah, membedakan dan memutuskan akan suatu hal sebagai penting, perlu dan mendesak untuk ditindaklanjuti atau tidak.